widget

Senin, 30 Maret 2009

PERKEMBANGAN FAIR TRADE DI INDONESIA

1. Indtroduksi
Fair Trade adalah suatu bentuk keoptimisan pemikiran, sikap dan tindakan dari orang-orang yang tidak bisa melepaskan diri dari jeratan globalisasi. Fair Trade muncul sebagai alternatif dari bentuk perdagangan bebas (free trade) yang menurut banyak orang sangat tidak adil. Kenyataan bahwa kemakmuran hanya dinikmati oleh sekelompok kecil warga bumi sementara kemiskinan akut yang massif diderita oleh sebagian besar warga lainnya adalah bukti akibat ketidakadilan free trade yang paling nyata. Bila ditelusuri akar permasalahannya terletak pada aturan-aturan free trade yang pada praktiknya sangat tidak adil
Aturan-aturan doubel standard atau standar ganda yang dipraktekkan negara-negara kaya dalam hubungan perdagangannya dengan negara-negara berkembang telah merubah hubungan perdagangan tersebut yang secara filosofis adalah hubungan partnership yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi hubungan eksploitatif. Dengan kata lain hubungan perdagangan antara negara kaya dengan negara berkembang hanya menjadi sarana pelegalan eksploitasi baru setelah cara-cara kolonialisasi tidak lagi dipandang cukup beradab. Standar ganda free trade memaksa negara-negara berkembang untuk meliberalisasi perdagangan mereka, sedangkan pada sisi yang lain negara-negara maju masih menerapkan kebijakan proteksi bagi produk yang akan masuk ke dalam pasar domestik. Konsekuensi penerapan standar ganda tersebut seperti dicatat oleh United Nations telah menyebabkan negara berkembang mengalami kerugian setiap tahunnya sebesar 100 juta dolar US. Selain itu ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang semakin besar dimana saat ini hanya 20% populasi dunia menikmati income yang jumlahnya 60 kali lebih besar dari income orang-orang miskin.
Di tengah kondisi perdagangan yang semakin lama semakin tidak adil tersebut dan telah menyebabkan ketimpangan yang semakin besar antara negara kaya dan negara berkembang, Fair Trade muncul sebagai sebuah gerakan perdagangan alternatif yang berpihak kepada produsen miskin melalui penerapan prinsip keadilan, transparansi, komunikasi dan keadilan gender. Dalam prakteknya, prinsip dan nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk rantai distribusi yang lebih pendek, penguatan organisasi produsen, peningkatan keterlibatan dan peranan perempuan dalam perdagangan, harga premium bagi produk yang dihasilkan.
Sejak menjadi sebuah gerakan pada tahun 1950 fair trade telah menyebar ke berbagai negara di kawasan Eropa, Amerika, dan Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri gerakan fair trade muncul pada pertengahan tahun 1980-an. Dalam perkembangannya fair trade di Indonesia telah cukup membantu produsen-produsen miskin di berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Malang, Mataram, Bali, Surakarta. Perkembangan fair trade yang cukup positif tersebut menunjukkan bangkitnya kepedulian lebih banyak masyarakat terhadap orang-orang di sekeliling mereka yang selama ini bekerja keras menyediakan keperluan mereka namun tidak mendapatkan hak sesuai proporsi yang seharusnya mereka terima.
Tulisan ini akan menjelaskan tentang bagaimana ide-ide fair trade berkembang di tengah dominasi ide free trade dalam konteks Indonesia? Bagaimana ide-ide itu diperjuangkan? Bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia? selengkapnya lihat

Read more...

BRANDING INDONESIA: IDENTITAS SEBAGAI BRANDING

Mengapa Indonesia memiliki banyak branding? Mengapa Indonesia seringkali mengganti brandingnya? Mengapa branding-branding tersebut tidak berdampak signifikan bagi citra Indonesia di mata dunia internasional? Apakah branding yang tepat dan kuat bagi Indonesia dalam kondisi terpuruk seperti saat ini? Bagaimanakah cara membuat branding yang tepat dan kuat itu?
Sejak tahun 2001, Indonesia telah memiliki beberapa branding yaitu Indonesia, Just a smile away Indonesia. Pada tahun 2003 berubah menjadi Indonesia, the colour of life Indonesia, kemudian pada tahun yang sama berubah menjadi endless beauty of diversity, dan saat ini branding Indonesia adalah Indonesia, ultimate in diversity.1 Untuk sebuah branding negara, perubahan yang cukup sering dan terjadi dalam waktu singkat adalah sesuatu yang cukup mengherankan. Bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, India, Hongkong, maka Indonesia adalah yang paling sering mengganti branding-nya. Sedangkan negara-negara tersebut tetap konsisten dengan branding masing-masing yaitu Malysia dengan Malaysia Trully Asia, Thailand dengan “Amazing Thailand”, India dengan India Eternally Yours, dan Hongkong dengan “Hongkong Asia’s World City.
Banyaknya branding tersebut tidak berdampak signifikan bagi perbaikan citra Indonesia, yang akhirnya juga tidak bermanfaat signifikan bagi pencapaian tujuan-tujuan pembuatan sebuah branding. Seperti diketahui bahwa tujuan utama pembuatan branding bagi suatu negara antara lain adalah untuk menarik investasi luar negeri dan menarik wisatawan manca negara (wisman) sebanyak-banyaknya. Namun faktanya tidaklah demikian dengan Indonesia, sejak memiliki branding pada tahun 2001 terjadi penurunan yang siginifikan di dalam jumlah masuknya investasi asing (PMA) dan jumlah kunjungan wisman. Menurut data BKPM, pada tahun 2001 nilai neto PMA ke Indonesia adalah USD-2.978 juta.
Untuk jumlah kunjungan wisman, Indonesia juga mengalami penurunan drastis. Sebagai gambaran, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada Oktober 2005 turun 30,85 persen, yaitu menjadi 267,8 ribu orang dari 387,3 ribu orang pada September 2005. Dibanding dengan periode yang sama 2004, jumlah wisman Oktober 2005 turun sebesar 30,31 persen. Penurunan yang cukup tajam terjadi pada jumlah wisman yang berkunjung ke Bali. Dibanding bulan sebelumnya jumlah wisman turun 48,39 persen, yaitu dari 168.170 orang menjadi 86.798 orang.
Fakta-fakta tersebut secara jelas menggambarkan bahwa branding Indonesia yang cukup banyak itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Indonesia. Atas dasar itu tulisan ini akan memberikan alternatif baru dalam upaya menciptakan branding yang kuat dan tepat bagi Indonesia.

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP