Rabu, 19 November 2008

Sistem Pertahanan Rudal AS dan Ketegangan AS-RUSIA

SISTEM PERTAHANAN RUDAL AS DAN KETEGANGAN AS-RUSIA

Rencana Amerika Serikat (AS) untuk membuat sistem pertahanan rudal di Polandia akhirnya tercapai. Setelah negosiasi bertahun-tahun, pada tanggal 20 Agustus 2008, Menteri luar negeri (Menlu) AS Condolizza Rice dan Menlu Polandia Radek Sikorski secara resmi menandatangani kesepakatan pembangunan sistem pertahanan rudal tersebut. Kesepakatan ini tentunya akan menyebabkan hubungan antara AS dengan Rusia semakin tegang. Pada kerangka yang lebih luas bentuk politik internasional untuk tahun-tahun mendatang sepertinya akan didominasi oleh konflik.

Salah satu bentuk konkrit dari akibat hubungan buruk AS-Rusia adalah perang antara Rusia dan Georgia terkait perebutan wilayah Ossetia Selatan yang terjadi baru-baru ini. Upaya AS untuk menarik Georgia ke dalam blok Barat (AS dan Uni Eropa) telah menyebabkan Rusia tidak ragu untuk menggunakan kekuatan militernya terhadap Georgia. Perang tersebut adalah puncak dari kejengkelan Rusia terhadap AS yang terus-menerus memperluas pengaruhnya terutama di negara-negara yang merupakan eks-Uni Soviet. Sepak terjang AS tersebut dilihat sebagai suatu ancaman besar oleh Rusia yang merasa negara-negara tersebut adalah “back yard-nya.

Rencana Pertahanan Global AS

Tidak dapat dipungkiri bahwa rencana penempatan sistem pertahanan rudal AS di Polandia dan Republik Ceko adalah salah satu manifestasi dari rencana global AS untuk semakin memperkuat supremasi militernya di seluruh dunia. Sejak tahun 2001, pasca tragedi 11 September AS berencana membangun 8 sistem radar dan 3 pangkalan anti rudal di berbagai kawasan. Tempat-tempat strategis yang dipilih AS adalah Alaska, Inggris, Greenland, Polandia, Ceko, Negara Kaukasus, dan Jepang.

Penempatan Rudal AS di Polandia dan Ceko terutama dimaksudkan oleh AS untuk menangkis serangan rudal dari Korea Utara dan Iran. Sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh Korea Utara dan Iran yang diduga kuat sedang membangun kekuatan senjata nuklir dipandang sebagai ancaman yang sangat membahayakan keamanan AS. Ketakutan AS tersebut cukup beralasan karena rudal Korea Utara yaitu Taepodong-2 memiliki jangkauan sejauh 6000 km lebih. Artinya rudal tersebut mampu menjangkau daratan AS. Bahkan saat ini Korea utara sedang mengembangkan rudal taepodong-3 yang memiliki jangkauan sampai 12.000 km yang berarti mampu menjangkau seluruh daratan AS.

Kemampuan rudal Iran juga menunjukkan kemampuan yang mengkhawatirkan AS. Saat ini Iran telah mengembangkan rudal Shahab generasi keenam Shahab-6 yang memiliki jangkauan 10.000km yang juga mampu menjangkau seluruh daratan AS.

Ancaman bagi Rusia

Bagi Rusia rencana AS tersebut adalah suatu bentuk ancaman sangat serius. Bila diamati, lokasi-lokasi rencana penempatan sistem radar dan sistem anti rudal tersebut menempatkan rusia pada posisi terkepung dari segala penjuru. Ancaman terbesar yang dirasakan Rusia tentunya berasal dari Polandia dan Ceko karena kedua negara tersebut jaraknya paling dekat dengan dengan Rusia. Bahkan bagi Rusia kedua Negara itu adalah halaman belakannya.

Kecurigaan Rusia bahwa sebenarnya penempatan Rudal AS di Polandia dan Ceko dimaksudkan untuk mengunci rudal Rusia semakin kuat karena beberapa solusi yang ditawarkannya tidak digubris oleh AS. Sejak awal, Rusia telah menawarkan pengggunaan bersama pangkalan radar milik Rusia yang ada di Azerbaijan. Pangkalan tersebut merupakan sebuah instalasi radar peringatan dini (early warning radar). Stasiun radar yang ada di pangkalan ini memiliki jangkauan 6000 km. Jangkauan tersebut mencakup Iran, Turki, India Irak dan seluruh Timur Tengah. Dengan fakta itu maka penolakan AS untuk menggunakan pangkalan tersebut telah menegaskan maksud AS yang sesungguhnya.

Ketegangan Hubungan Internasional

Konflik AS-Rusia tidak pelak lagi akan menyebabkan ketegangan di dalam hubungan internasional secara keseluruhan. Ketegangan utamanya akan terjadi di wilayah Eropa Timur dan Eropa Tengah. Wilayah ini sangat penting bagi AS dan Rusia yang sama-sama sedang memperkuat supremasinya di dunia. AS dan Rusia tetap percaya terhadap apa yang dikatakan oleh ahli geopolitik Halford Mackinder bahwa siapa yang menguasai heartlad (Ukraina, Rusia dan Eropa Tengah) akan menguasai World-Island (Eurasia/Eropa Asia dan Afrika), siapa menguasai World-Island akan menguasai dunia. Terbukti doktrin ini telah menyebabkan dua Perang Dunia dan Perang Dingin. Atas dasar itu maka baik AS maupun Rusia akan berusaha dengan cara apa saja untuk menguasai wilayah Eropa Timur dan Eropa Tengah.

Ketegangan lebih luas akan terjadi pada hampir semua negara. Negara-negara lemah yang selama ini merasa lebih dekat dengan salah satu dari dua kekuatan utama dunia tersebut (AS/Rusia) akan berusaha bergabung dengan salah satu dari keduanya. Hal itu adalah sikap alami yang selalu terjadi di dalam sistem internasional. Seperti dikatakan oleh neorealist, negara-negara lemah akan melakukan balancing yaitu beraliansi dengan negara yang lebih kuat untuk mengimbangi negara lain yang mengancamnya (Hobson:2000). Persaingan antar aliansi ini sangat potensial menyebabkan perang terbuka.

Hal itu telah terjadi di mana Iran, Korea Utara, Kuba, Venezuela dan Sebagian negara di Eropa Timur dan Tengah beraliansi dengan Rusia untuk mengimbangi AS yang semakin ekspansif. Di pihak lain sebagian besar negara beraliansi dengan AS untuk mendapatkan perlindungannya. Hal itu tampak nyata dari berbondong-bondongnya negara-negara eks Soviet untuk menjadi “teman” AS.

Tampaknya impian kita untuk hidup di dunia yang lebih aman akan semakin jauh dari kenyataan. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa dunia tidak akan pernah sepi dari anarki.

0 comments:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP